Tuesday, 16 August 2016

BETAPA SUSAHNYA CARI RUANG KELAS BUAT KULIAH DI IAIN CIREBON


Kisah ini sudah disensor dari buku aslinya dan ditambahkan bumbu-bumbu di sana-sini guna mendramatisir setiap kejadian serta harap anda menghubungkan kisah-kisah ini sesuai dengan konteks  saat itu, yaitu tahun 2013.

Selamat menikmati!


IAIN SNJ Cirebon adalah sebuah kampus yang memiliki kegiatan yang sangat padat di hari-hari tertentu dan karena saking padatnya kelasnyapun yang berjumlah berpuluh-puluh itu tidak mampu menampung populasi penduduknya, meskipun begitu ruang akademik masih cukup luas agaknya. Terbukti kadang saat kita ke ruangan Dekan atau purek untuk mengurus sebuah adminiatrasi kita bisa dengan leluasa melihat luas dan lengangnya tempat itu, dan karena saking lengangnya pula orang-orangnya pun tidak ada, mungkin khusus bagi mereka hari rabu itu libur.

Hari itu sangatlah ramai, apalagi di gedung jurusan bahasa Inggris. Saat berjalan melewati tangga, anda bisa saling bersenggolan karena saking berjubelnya manusia di area itu, ada yang ingin lewat, ada juga yang entah kenapa malah duduk-duduk di sepanjang tangga itu, mungkin duduk di tangga hampir mirip sensasinya dengan duduk di kursi artis, karena setidaknya akan ada yang selalu menyapa kita walau sering kali kita tidak mengenalnya "maaf mas/mba permisi". kalaupun tidak menyapa paling tidak senyum saja, lumayan kalau cantik bisa diajak kenalan, lalu jalan.

Marilah kita menuju kelas-kelasnya, kebetulan sekali saya ingin mengajak anda untuk mengikuti sebuah mata kuliah yang rencananya dilaksanakan tepat hari ini, dan tepat setengah jam lagi dari sekarang. Saya sarankan kita cepat-cepat ke kelas. alasannya nanti saya ceritakan di dalam. sekarang kita sudah ada di lantai dua, tempat kelas-kelas perkuliahan dilaksanakan. Janganlah anda bertanya tentang lantai satu, di bawah sana sudah disulap menjadi kantor jurusan, 2 laboratorium bahasa tapi justru tak karauan penggunaannya, dan satu lagi tempat yang eksklusive, khusus untuk BUNDA, jadi jangan ditanyakan lagi.

Silahkan ikuti saya, mari kita coba buka pintu kelas ini, ah... ternyata ada yang sedang kuliah disitu. Coba sebelahnya, sepertinya kosong..., hanya terdapat beberapa mahasiswa saja, tapi sebelumnya harus ditanyakan dulu "maaf mba/mas kelas ini kosong?" jawab mereka "oh sebentar lagi kami ada kuliah". Gila... ternyata sudah dibooking kayak di karaoke saja. Seperti yang terlihat, lantai 2 sudah over capacity, kita ke atas saja lantai tiga. Mulai dari pintu yang terdekat dengan tangga, tapi pintu itu tertutup, dari dalam pun terdengar suara dosen yang sedang mengajar. Dan alangkah hebatnya dengan pintu-pintu kelas disekitarnya yang kondisinya tak lebih baik dari saudaranya.

Baiklah kita pakai trik...., agak licik, dan memang licik, tapi setidaknya tidak seperti yang dikatakan oleh mantan ketua PSSI itu. Coba dengarkan sepintas, kalau ini gedung jurusan bahasa inggris kenapa ada kelas yang sedang belajar sejarah. Ah... itu dia, kita dapat mangsa satu, jika anda belum mengerti dengan trik saya, biar saya jelaskan. pertama akan saya ketuk pintu kelas itu, kenapa? karena ini gedung bahasa inggris tidak mungkin mengajarkan sejarah. jadi sudah dapat dipastikan apabila penghuni kelas yang akan saya ketuk pintunya adalah illegal dan kegiatannya inkonstitusional. Tapi apa mungkin mengeluarkan mereka begitu saja? Lihatlah dengan jelas disamping pintu itu ada jadwal kelas. Di sini tertulis kelas PBI-C jam 10.00.

Meskipun itu kelas PBI-C kita bisa membodohi mereka, hal itu mungkin saja, karena mereka bukan mahasiswa bahasa inggris, jadi sangat kecil kemungkinannya kalau mereka tahu kita bukan mahasiswa PBI-C. Sayapun mengetuk pintu sambil mengucapkan permisi, lalu dibukalah pintu itu dan terjadi sedikit komproni antara saya dan salah satu penghuninya. Saya menjelaskan bahwa sesuai jadwal, ini adalah kelas saya dengan mata kuliah Phononema, silahkan dicek dijadwalnya. lalu dia melihat jadwal yang ada disamping itu.

Sesudah itu dia meminta sedikit waktu untuk membicarakan hal itu dengan dosennya. Sesaat kemudian munculah dosennya dan sedikit berbincang sengan saya, sambil menjelaskan bahwa dia bermaksud untuk meminta saya mencari kelas lain saja. Tapi saya menjawab denga bijak bahwa kelas dari jurusan yang lain saja sampai menumpang di jurusan saya, apalagi saya harus mencari kejurusan lain, tentunya tidak bisa tidak, pastilah hanya membuang-buang waktu saja, saya pun kembali menjelaskan apabila dosen tersebut harus berebut kelas dengan dosen saya, pastinya malulah karena memang kelas itu adalah haknya. Akhirnya penghuni kelas itu keluar dan pindah entah kemana mungkin mereka pindah ke neraka atau barangkali surga karena di gedung rektorat bisa diibaratkan surga di IAIN berbanding terbalik dengan kelas-kelasnya yang nyaris terasa seperti saqar. Jika anda bertanya sedemikian itukah mahasiswa di sini berjuang untuk memperebutkan kelas ya.... itulah kenyataannya.

Selang beberapa saat, datanglah juga kawan-kawan saya, satu persatu mulai mengambil kursinya masing-masing. Tapi lucunya hampir saat perkuliahan dimulai datanglah si empunya kelas, mahasiswa PBI-C. Dugaan saya meleset. Mereka kuliah sesuai jadwal kelasnya. Lalu saya hanya bisa melongo melihat satu persatu kawan-kawan saya meninggalkan kelas itu. Sungguh lucu, memang lucu, dan terjadi dua kali pula, kalau begini salah siapa????. Bolehkah juga saya bertanya "Dimana kelas saya?".

Coba kita telaah kejadian ini. Bagaimana mungkin sebuah kampus tidak memperhitungkan jumlah mahasiswa dengan jumlah kelas yang tersedia????, pastilah tolol jika hal itu terjadi. Meskipun begitu, hal itu sungguh terjadi. Dalam kasus ini pihak jurusan telah membuat jadwal yang sesuai dengan kelas yang ada. Jadi tidak mungkin sistem yang dipersalahkan. Tapi tentunya ada yang mengotak-atik sistem itu sehingga timbul kekacauan. Ada sebuah istilah yang selalu dilakukan sebelum perkuliahan dilakukan secara resmi. Hal ini biasanya melibatkan dosen dan mahasiswa. Lalu apakah istilah itu?. Kontrak belajar yang merupakan sebuah kesepakatan antara dosen dan mahasiswa dalam membahas masalah seputar perkuliahan seperti, syllabus, buku yang digunakan, aturan perkuliahan (kedisiplinan, cara pembelajaran, dan toleransi keterlambatan masuk kelas serta tugas-tugas), dan satu lagi adalah jadwal perkuliahan.

Untuk yang satu ini, terkadang sangat sulit untuk dilakukan. Banyak pihak yang berkepentingan dalam hal itu, baik itu dari mahasiswa ataupun dari dosennya. Seperti dalam sub-bab sebelumnya, mahasiswa-mahasiswa banyak yang memiliki kesibukan di luar perkuliahannya. Tapi sebenarnya dosenpun memiliki kepentingan yang sama pula. Jadi jadwalpun bisa diatur sedemikian rupa sesuai kesepakatan bersama. Lalu apakah dampaknya???. Tentu carut-marut pengaturan kelas yang sudah tidak merata lagi. Karena antar kelas terkadang berkuliah di hari dan jam yang sama yang sangat dimungkinkan jumlah kelas di waktu itu tidak cukup mengcover kebutuhan perkuliahan.

Mungkin hal ini masih belum karuan, baiklah akan saya tambahkan lagi dosisnya. Sepanjang perkuliahan, tidak ada hal yang lebih mencengangkan selain hingar-bingar keriuhan di balik pintu kelas di hari-hari itu. Karena kesepakatan itu membuat jalinan silaturahmi antar kelas, antar tingkatan, bahkan terkadang antar jurusan terasa semakin erat dan intens. Betapa tidak, hampir semua mahasiswa jurusan PBI dari semua tingkatan semester campur aduk rebutan gunungan keraton solo, sehingga sepanjang perkuliahan mahasiswa yang sedang berada di dalam kelas, mereka semua bak artis korea yang di elu-elukan dari luar panggung yang mana para fans membentangkan spanduk dukungannya "cepat keluar, kami mau masuk".

Hal ini sangat umum dan  memang terjadi  sebagai dampak dari kesepakatan itu. Saya akan ilustrasikan dengan singkat kekacauan tersebut. Pertama anggaplah kita akan membuat bubur, masak dulu airnya, lalu masukan ribut-ribut, carut-marut, aduk-aduk..., kocok-kocok, icip-icip..., jual-jual, untung-untung. Setelah lembut, ajukan rencana libur... kalau bisa jum'at, sabtu, minggu dan senin tidak kuliah. sehingga jadwal pun merata di hari-hari selain itu, biar saja perkuliahan dimulai pagi-pagi buta sampai mata ayam buta. karena bubur memang enak disajikan bersama ayam suwir.

Untuk itu tengok sebentar saja ke dalam kelas, kalian pasti tahu sebuah panci presto raksasa yang mampu melunakan tulang-tulang semangat penghuninya. Panci presto yang satu ini mampu dengan sempurna memberikan panas merata sehingga ketek-ketek berubah seperti sayur asem, dan make-up-make-up pun luntur meskipun disamping itu disandingkan juga katalogue oriflame untuk opsi pendempulan yang lebih sempurna. Perkuliahan dan pemrestoan sekarang bisa tersaji secara elegan dengan bau-bauan, terutama apek dan ketek asem.

Hari itu... cuaca sedingin es padahal tidak ada AC dan tidak ada hujan, tapi anehnya baju-baju pun basah dan lengket plus belum dicuci seminggu. Maklum anak kos, jadi saat mencuci harus memperhitungkan ongkos. Majulah beberapa kawan saya ke depan kelas untuk mempresentasikan materi perkuliahan. Dan di sudut sana sang dosen tidak mampu dilihat secara kasat mata. Baru saja dia mewahyukan lewat handphone "Maaf bapak agak terlambat, tolong presentasi saja dulu".

satu kawan saya membawa fotocopian dengan nafas yang tersengal-sengal, kabarnya dia baru saja marathon dari batara sampai khayangan. Kabarnya pula baru saja makalah itu selesai tepatnya setengah jam yang lalu. Pantas ini fotokopian rasanya sehangat gorengan. Lalu dia membagikannya secara merata tanpa pandang bulu. kawan-kawan seperjuangannya yang duduk di depan sungguh menghargai usaha kawannya itu dengan ditekuknya muka karena kesalnya. phenomena seperti ini memang rutin terjadi, untuk lebih detailnya biar saya jelaskan kronologis kejadiannya. Dalam membagi tugas kelompok biasanya disesuaikan dengan kesepakatan antar anggota. beberapa harus mengerjakan bab 1, 2, 3, dan terakhir terpaksa membuat daftar isi, kesimpulan serta cover makalah. Kadang anggota yang terakhir ini lalai sehingga kesimpulan dan lain-lainnya selesai ketika perkuliahannya hendak dimulai.

Lalu presentasipun dimulai, pertama-tama untuk membuka kegiatan itu dimulai dengan suara bisik-bisik di pojokan, lalu sedikit cekikikkan. Setelah itu dilanjutkan dengan promo-promo, desas-desusnya terdapat diskon 20% jika diangsur selama sebulan. Pilihannya banyak sekali, ada make-up, jam tangan, kue-kue warung juga ada. Meskipun materi perkuliahan waktu itu adalah sejarah peradaban islam tapi materi yang masuk ke otak justru kue kering gurih, dan beberapa katalogue keluaran terbaru.

Tiba-tiba entah kenapa kawan-kawan saya yang sedang presentasi di depan kelas terhenti. Tiba-tiba juga mereka membuka sesi pertanyaan, katanya lagi sesi pertanyaan hanya dibuka satu termin, dan satu termin hanya 4 pertanyaan. Anehnya banyak kawan-kawan saya yang mengacungkan telunjuknya, padahal seingat saya hampir setengah dari mereka asyik ngobrol sendiri. Lalu tanpa panjang lebar ditunjuklah empat orang untuk dipersilahkan menyampaikan pertanyaannya masing-masing. Saya hendak memberitahukan sebuah peraturan yang tak resmi dalam tata cara tanya jawab setelah presentasi materi kuliah. Sebut saja Si A berkawan dengan Si B, C, dan D. Maka terlebih dahulu mereka berpesan kepada kawannya Si A tersebut bahwa mereka hendak bertanya tentang hal ini yang nanti Si A jawab dengan hal ini pula (sambil menunjukan halaman makalah). Walaupun settingannya tak begitu mencolok seperti sepak bola gajah yang terjadi baru-baru ini, hal itu tentu saja sedikit berpengaruh terhadap skor pertandingan.

Tapi lucunnya lagi setelah pertanyaan itu dijawab oleh si pemakalah, tiba-tiba ada yang menambahkan ini dan itu, awalnya si pemakalah menawarkan kepada peserta diskusi untuk sekedar menambahkan jawaban yang disampaikan olehnya ataupun boleh pula menyangganya. Tapi tak sekedar disanggah dan ditambahkan, tiba-tiba saja diskusi itu menjadi debat kusir. Seperti umumnya diskusi di kelas saya, kosma yang dengan gaya statementnya "Yo Wis Gampang" turut menambahkan keterangan atas jawaban pemakalah yang kosma dapatkan dari perenungannya selama ratusan tahun di bawah pohon jambu. Mendengar pernyataan kosma ini, lalu saya sendiri merasa birahi untuk menyanggahnya. Akhirnya saya menyampaikan pandangan saya berdasarkan perspektif sekulerisme dan konsumerisme yang entah bagaimana saya kaitkan dengan bahasan diskusi yang membahas tentang kaidah Islam.

Tak mau kalah si perempuan yang notabene fans berat si botak ikut menyanggah pendapat saya tapi sekaligus mendukung beberapa gagasannya. Hal itu kontan saja menimbulkan kebingungan. Apakah ini politik dua kaki pohon beringin?. Lama-kelamaan diskusi itu menjadi hal yang sangat konyol, saking konyolnya kadang berganti-ganti tema, dari fikih lalu menjadi tasawuf, lalu berubah lagi menjadi sejarah Islam, lalu berubah lagi menjadi pemikiran sekuler seperti demokrasi, liberaralisme, komunisme, sehingga tema itu berubah lagi menjadi politik praktis, kadang-kadang membahas ekonomi kerakyatan, timbul pula pertanyaan bagaimana sebenarnya peristiwa G30S/PKI itu? sambil sesekali mengaitkan dengan tekhnologi informatika, terus kembali lagi dengan ilmu perbandingan agama-agama, lalu terbitlah ide trinitas dan monoteisme, sampai-sampai isu-isu demonstrasi di ruang rektorat terblow up dengan sendirinya.

Tapi pada akhirnya pula, si pemakalah mengatakan "untuk lebih jelasnya nanti kita tanyakan ke dosen" sebuah statement anti klimaks yang membuat diskusi itu menjadi garing. Dan ketika 10 menit diskusi hampir berakhir, datanglah sang dosen sambil menjelaskan bahwa dia tidak bisa berlama-lama di dalam kelas, karena saking sibuknya kegiatan sang dosen di luar perkuliahan di hari itu. Tanpa hal yang berarti diskusi yang diharapkan mampu diselesaikan oleh dosen, tiba-tiba berakhir tragis tanpa ada titik temu, dan sang dosen hanya berharap mahasiswanya mampu belajar tentang semuanya. Lalu besoknya sang dosen datang ke sebuah bank pemerintah untuk mengambil gajinya di bulan itu.

No comments:

Post a Comment