Wednesday, 17 August 2016

LES DI RUMAH DOSEN MERUPAKAN MODUS


Kisah ini sudah disensor untuk menghindari UU ITE, tapi tidak menghilangkan inti dari isinya.
dijamin masih kinyis-kinyis......!
Enjoy.......!!



Coba anda ingat-ingat lagi  kisah beberapa dosen yang sering kali tak masuk akal sewaktu anda duduk di bangku kuliah. Karena mungkin beberapa diantaranya justru bertindak lebih konyol dibanding mahasiswanya, seperti salah satu kisah dari kawan saya ini.

Pendidikan adalah hal yang tak lebih dari sekedar pengajaran yang diajarkan melalui jalan tebak-tebakan. Saat seseorang bertanya lalu anda jawab, maka itu pendidikan, jika anda benar, anda takkan mendapatkan apa-apa, begitupun sebaliknya. Karena pendidikan itu berbeda dengan perjudian, minimal hal yang kita ketahui dari perjudian adalah jika kita menebak dengan benar maka akan mendapatkan uang atau barang taruhan.

Menariknya, seorang dosen yang fenomenal ini telah sukses menanamkan prinsip pendidikan yang efeknya lebih mengerikan dari perjudian. Dia adalah salah satu dosen terbang tetapi terbangnya tidak seperti lebah yang membawa madu dari dunia luar sana lalu menyimpannya di institusinya. Dia justru seekor nyamuk yang menyedot darah dari setiap tempat yang dia singgahi tanpa terkecuali.

Dosen ini sangat efektif dalam mengajar, cukup dengan beberapa lembar soal yang harus mahasiswa fotocopi lalu dengannya mereka belajar. Untuk menghemat tenaga, mahasiswa tak perlu repot-repot menjawab semua isian di soal itu. Karena sang dosen akan menunjuki satu-persatu mahasiswanya untuk menjawab isian soal tersebut, satu mahasiswa satu soal sesuai urutan dan bergantian pula. Cara mengajar dengan tebak-tebakan semacam ini begitu efisien, karena baru saja beberapa orang mencoba menjawab soal itu, waktu perkuliahan berakhir begitu saja.

Kebiasaan kawan saya selama ini adalah duduk di barisan yang paling belakang. saat itu pas sekali sang dosen sudah datang, oh... iya dia selalu tersenyum saat memasuki kelas. Senyumnya melambangkan sebuah hal yang tersembunyi yang entah apa itu. Sejurus kemudian dia menginstrusikan kepada mereka semua untuk membuka fotocopian yang minggu kemarin kami pelajari. Lalu tanpa basa-basi dia menunjuk seorang kawannya untuk membaca soal nomor sekian.

Setelah kawannya membaca soal itu, dia diperintahkan untuk menjawab titik-titik pertanyaan tersebut. Tapi bukannya menjawab, dia malah cengar-cengir, sambil menggaruk-garuk ketiaknya. Wuh.... pasti sensasi gatalnya begitu membara sampai-sampai hilang konsentrasinya. Hal tersebut kontan saja menyebabkan dosen tersebut mengatainya. Tapi anehnya yang dikatai oleh dosen tersebut bukanlah soal kenapa kawannya itu tak bisa menjawab, dia justru sangat tertarik dengan garukkan kawannya tersebut.

Mungkin saat menggaruk tadi, kawannya merasakan sebuah sensasi yang membahagiakan, seperti terbang, seperti berhalusinasi seakan-akan dia baru saja memakai zat adiktif. Sambil berdiri dosen tersebut mengatakan bahwa kawannya itu tidak sedang menggaruk ketiaknya tapi dia sedang menggesek biola hanya saja bukan senar biola yang dia gesek melainkan bulunya. Dosen itupun tertawa terbahak-bahak seakan menghina ditambah lagi dengan suara tawa riang penghuni kelas tersebut. Sehingga kawannya yang menggesek dawainya sendiri diam seribu bahasa, pastinya kata menggesek biola telah menggosok rasa malunya. Mukanya pun berubah merah padam, begitu pula hatinya menjadi remuk redam. Mungkin lain kali kawannya tidak akan lagi menggesek dawainya seumur hidupnya.

Insiden mahasiswa bermain biola di tengah-tengah perkuliahan berlalu begitu saja. Tapi sang dosen tidak juga kembali ke tempat duduknya, dia malah berjalan berkeliling kelas sambil menceritakan hal-hal konyol yang dia alami dimana dia pernah mengajar di sebuah tempat kursus yang terkenal di cirebon yaitu Liya. Awalnya dia tidak ubahnya tenaga pengajar yang lain yaitu mengajarkan grammar kepada murid-muridnya, lalu entah kenapa semakin hari para murid-murid yang belajar dari guru yang lain ikut belajar juga bersamanya, sampai-sampai para muridnya lebih memilih untuk belajar dengan dosen tersebut ketimbang guru-guru yang lain.

Hal itu tentunya kurang masuk akal, seorang yang cara mengajarnya seperti ini yaitu dengan sistem tebak-tebakan ditambah hanya dengan fotocopian mana mungkin bisa sehebat itu, sampai-sampai seluruh murid yang kursus di tempat itu lebih memilih belajar dengan dosen itu ketimbang dengan yang lain. Bahkan saat itu saja dari sekian banyak soal di fotocopian cuma beberapa saja yang baru dibahas (tepatnya baru ditebak karena memang memakai sistem tebak-tebakan) ditambah tadi ada insiden dawai biola yang membara, bahkan setelah itu sang dosen malah curhat tak berujung seakan-akan tukang obat klinik TongSeng. kawan saya yakin sekali bahwa dosen itu benar-benar seorang penipu, kelihatan sekali dari hidung besarnya, karena dari semua mahkluk yang hidup di kampusnya, hanya dia yang memiliki hidung sebesar itu, seakan-akan itu bukanlah hidung tapi itu adalah jamur kuping.

Dosen itu semakin menjadi-jadi, dia pun akhirnya bercerita tentang hal yang bukan-bukan. Menyambung kisah yang sebelumnya, dosen itu dengan congkaknya menceritakan bahwa ada salah satu muridnya yang rela keluar dari Liya lalu lebih memilih belajar privat dengan dosen itu. Katanya lagi murid itu rela membayar mahal untuk bisa belajar privat dengan sang dosen, dan tentu saja karena dia tertarik dengan jumlah uang yang ditawarkan kepadanya, akhirnya dia menerima tawaran itu. Tetapi konsekuensi yang harus dosen itu terima adalah dia harus rela bolak-balik cirebon-losari, karena memang rumah muridnya ada di losari. Tapi waktu itu kawan saya masih belum mengerti mengapa dosen tersebut mau-maunya melakukan hal sedemikian.

Pertanyaan itupun terjawab ketika sang dosen membocorkan jumlah bayaran yang dia terima dari sang murid, dan kawan saya agak terkejut ketika dia menyebutkan nominalnya....!. Ternyata murid tersebut berani membayar sang dosen beberapa ratus ribu rupiah per pertemuan, jumlah yang wow... menurut kawan saya, mengingat apa dan bagaimana dosen tersebut memberikan kuliahnya kepada mahasiswanya.

Tapi dari hal ini bisa ditarik beberapa kesimpulan. Pertama dosen itu sedang berbohong yang entah apa tujuannya, karena hal itu memang sangat tidak sebanding dengan jumlah uang yang dibayarkan dan cara dia mengajar. Kedua hal itu mungkin saja terjadi lantaran dosen ini kelihatan sekali mata duitan, muka-muka penipu, dan mulutnya kotor. Dosen itu bisa saja memberikan cara pengajaran yang berbeda kepada murid itu. Hal itu bisa terjadi karena memang murid tersebut berani membayarnya mahal, istilahnya siapa yang membayar berapa maka dia akan pantas mendapatkan apa.

Jika dosen semacam ini terus dipelihara maka kelak mahasiswanya benar-benar akan menjadi kambing. Dia tidak akan mengejar sesuatu kecuali itu adalah sejumlah uang yang layak masuk ke  kantongnya, bahkan jika seorang anak alien bermukim di Mars dan berani membayar mahal sang dosen, maka pasti dosen itu akan mendatanginya. Bahkan mungkin jika malaikat maut memintanya untuk mengajarinya grammar yang tentunya malaikat tersebut mau membayarnya dengan bayaran yang pantas, pasti sang dosen tidak akan ragu untuk mendatanginya meskipun setelah itu malaikat maut mencabut nyawanya melalui kedua matanya, sehingga setelah itu juga lalu dilemparnya dia ke dalam kerak neraka.

Lantas kawan saya berbisik dengan jiwa yang malang yang ada disampingnya. "Orang seperti inilah yang mengajarkan ilmu tapi orang-orang disekitarnya justru akan mengutukinya dan melaknatinya." Bahkan kawan saya tidak mempercayai semua yang diceritakannya yang seolah-olah dia memiliki ilmu yang sebegitu mahalnya untuk dibagikan kepada sesamanya, sehingga orang yang miskin tidak akan pantas duduk di majelisnya kecuali sebuah omong kosong dan kebohongan seperti yang terjadi saat itu.

Kembali sang dosen menyambung ceritanya dengan sebuah promosi tempat pengobatan yang ces pleng, kawan saya menjadi teringat klinik tongseng yang dia katakan di awal tadi. Dosen itu begitu hebat dalam berpromosi, khususnya masalah klinik alternatif yang satu itu, katanya lagi klinik ini bukanlah sembarang klinik pengobatan, pasiennya saja sudah berasal dari segala pelosok negeri, lalu dengan tampang yang bersungguh-sungguh (hayatilah seperti saat anda sedang berusaha mengeluarkan sang naga di kakus) dia meyakinkan bahwa pernah salah satu anggota keluarganya yang sudah di rawat di berbagai rumah sakit tapi tidak kunjung sembuh, dan malangnya saat berobat di klinik itu dia baru menemui kesembuhannya. 

kawan saya hanya bisa melongo mendengarkan dongengan dosen tersebut, seakan-akan dia sedang melihat topeng monyet yang menari-nari di depan kelas dengan lucunya. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak saat sang dosen bercerita bahwa pernah ada seorang pasien yang impotent dimana saat dia menceritakan hal itu, dia tidak malu-malu mengilustrasikan hal tersebut dengan telunjuknya yang digerakan naik-turun seolah-olah itu adalah pentol korek miliknya sendiri. Benar sekali inilah yang disebut standup komedi, kawan saya rasa jika dosen ini menjadi comic tentu dialah yang akan menang. Lalu saat orang-orang bertanya "Dosen dari universitas mana dia?" lalu dengan bangga dia menjawab "main saja ke jalan perjuangan cirebon".

Kawan saya menduga bahwa perkuliahan di semester itu pasti akan banyak makan biaya, entah kenapa kawan saya merasa bahwa ada yang salah dalam memahami isi kantong mahasiswa yang seringkali tak sampai sebulan isinya sudah menguap entah kemana. Khusus untuk dosen yang satu itu, perkuliahannya akan menjadi sekedar transaksi antara konsumen dan produsen. Yang kawan saya maksud dengan konsumen adalah mahasiswa yang butuh nilai, sedangkan produsennya adalah dosen yang menghasilkan nilai. Padahal yang menghasilkan nilai bukanlah dosen, melainkan mahasiswa. Karena nilai adalah representasi kemampuan mahasiswa itu sendiri selama mengikuti perkuliahan tetapi hal itu telah berubah dengan DALIL yang diada-adakan oleh dosen.

Sebenarnya yang kawan saya takutkan di perkuliahan ini adalah sang dosen yang mengajar dengan asal-asalan tetapi tiba-tiba memberikan soal UAS yang sama sekali tak pernah diajarkan di kelas, ataupun jika pernah diajarkan tentu sang dosen akan meramunya sesulit mungkin sampai-sampai jika mereka tak bisa menjawabnya, tentu akan mendapatkan nilai C bahkan D. Karena memang DALIL dosen sangat kuat dimana mereka tak mampu menjawab soal-soal UAS dan justru menuliskan produk apa saja yang pernah sang dosen promosikan seperti ilustrasi jari telunjuk yang seakan-akan pentol korek itu.

Ketakutan kawan saya pun terbukti, setelah UAS dilangsungkan, hampir seluruh mahasiswa yang diajar oleh dosen tersebut tidak ada satupun yang lulus, rata-rata nilai yang mereka dapat saat itu adalah C dan D. Tapi sang dosen justru menawarkan kepada seluruh mahasiswa untuk perbaikan nilai, namun dengan satu syarat yaitu mereka harus mengikuti les singkat yang dia adakan di rumahnya. Seluruh mahasiswa saat itu sedang dalam posisi terjepit, mereka tak sanggup menolak tawaran tersebut. kawan saya sangat yakin ada sebuah design yang sistematis terstruktur dan massive seperti pilpres 2015. Mereka memang digiring ke arah tersebut sampai mereka tiba di sebuah jurang lalu mereka diseret satu persatu oleh sang dosen untuk melakukan semua keinginannya. Maka saat itu mereka tidak bisa menolak dan harus menuruti segala perintah jahatnya.

Untuk kasus ini kawan saya menceritakannya dengan begitu mendetail apa dan bagaimana rencana jahat tersebut yang terlihat seperti hendak menolong tapi sebenarnya justru memperdaya dengan keji. Setelah diberitahukan bahwa nilai mereka bisa tertolong jika mau mengikuti les singkat tersebut yang tentunya hal itu tidak gratis. Untuk mengikuti les tersebut mereka haruslah membayar Rp.60.000 yang dibayarkan secara kolektif perkelas, bayangkan saja saat itu terdapat tujuh kelas di angkatannya, dan jika dalam satu kelas terdapat lebih dari 35 mahasiswa, maka bisa dibayangkan berapakah yang bisa dosen itu dapatkan dari bisnis semacam ini. Lebih jelasnya kawan saya memberikan pemaparan hitungannya kepada saya

60.000 x 7 = 420.000 x 35 = 14.700.000

Bayangkan saja dari bisnis semacam ini sang dosen bisa meraup untung tanpa modal hingga Rp.14.700.000 .  Lalu bagaimana les tersebut? saat itu kawan saya menjelaskannya dengan sangat terperinci. Dari ratusan mahasiswa yang mengikuti les tersebut, mereka dibagi dalam dua periode (dua hari). Hari pertama hanya beberapa kelas saja yang diharapkan mengikuti les tersebut, sementara sisanya akan mengikuti di hari berikutnya. Les akan diadakan sejak pagi hari, satu kali pertemuan hanya berdurasi dua jam dan satu pertemuan hanya boleh diisi oleh 20 mahasiswa, lalu setelah selesai maka 20 puluh berikutnya baru mengikuti les yang selanjutnya hingga seluruh kuota mahasiswa di hari itu habis. 

Lalu saya bertanya "bagaimanakah sebenarnya les tersebut? apakah benar-benar bisa membantu mereka dalam mata kuliah itu?" kawan saya jawab dengan tegas "TIDAK!!!". Bahkan itu adalah sebuah les konyol yang pernah dia ikuti sepanjang hidupnya. Sang dosen hanya memberikan pengajaran yang tak ubahnya perkuliahan di kampus. mahasiswanya hanya diberikan dua lembar fotocopian soal yang harganya tak sampai tiga ratus perak, yang melihatnyapun mereka enek dan ingin muntah ditambah di luar rumah sang dosen sudah panjang mahasiswa yang mengantri untuk bergantian mendapatkan les konyol tersebut.

Ini sungguh ironi topeng monyet yang disandingkan dalam dunia pendidikan yang diaduk secara menjijikan seperti lumpur selokan. Inilah mengapa kawan saya mengatakan bahwa pendidikan tak lebih dari sekedar tebak-tebakkan, tapi justru lebih mengerikan ketimbang judi. Tapi memang setelah mereka mengikuti les tersebut nilai mereka menjadi A. Waktu itu kawan-kawannya merasa sangat senang melihat GPA masing-masing. Dosen itu sungguh pebisnis yang ulung. Tetapi kawan saya merasa menyesal, kalau tahu begini dia tak usah repot-repot hadir diperkuliahan karena cukup dengan Rp.60.000 segala permasalahan selesai.

Di sela-sela kegembiran itu salah satu kawannya menarik nafas dalam-dalam. Dia merasa tak percaya dengan nilai yang didapatnya. Saat itu mereka saling memperlihatkan nilai masing-masing. Sampai pada gilirannya dia melihat nilai kawannya yang satu itu, dan tiba-tiba jantungnya mendadak copot. Kawannya yang satu itu hanya mendapatkan nilai B. Di dalam hatinya, kawan saya berbisik " Ini pasti ada sesuatu yang ganjil yang mengganjel." Lalu kawannya menjelaskan bahwa saat yang lain membayar uang les Rp.60.000 dia hanya membayar Rp.30.000 . Dia berujar bahwa saat itu dia tak memiliki uang sama sekali dan hanya Rp.30.000 itulah hartanya yang terpaksa saat itu dia relakan untuk masuk kantong sang dosen tamak itu. Seketika wajah kawannya berubah mengenaskan dan menjadi kebiru-biruan saat dia benar-benar menyadari bahwa dunia pendidikan tak lebih dari sekedar transaksi busuk di balik indahnya dogma-dogma orang alim dan yang pura-pura alim. Maka kawan sayapun teringat kata-kata yang dia ucapkan waktu itu bahwa siapa yang membayar berapa maka dia akan pantas mendapatkan apa.

No comments:

Post a Comment