Sunday, 14 August 2016

BALADA KOSMA PBI-A IAIN SYEKH NURJATI CIREBON



Balada Kosma PBI-A

Latar Belakang mahasiswa IAIN SNJ Cirebon secara umum adalah pelarian atau survivor, mereka selain mahasiswa juga biasanya berstatus karyawan yang bekerja di luar kampus, intinya beberapa diantara mereka adalah orang yang sulit secara finansial. Saya sendiri bekerja di beberapa tempat selain menjadi guru mengaji di madrasah, juga seorang pengajar privat dan plus guru TK. Hasil dari bekerja lumayan bisa menambah ongkos kuliah baik itu jajan maupun kebutuhan kuliah yang kecil-kecil. Namun banyak pula kawan sekelas saya yang terkadang terperangkap di situasi di mana mereka harus mempertahankan pekerjaannya atau melanjutkan kuliah. Tapi sebagian besar kasus yang terjadi di lapangan adalah kosma menjadi satu-satunya orang yang selalu berhadapan dengan masalah tersebut.

Kosma pertama bekerja sebagai produsen susu, dan konon bekerja pula di berbagai tempat lainnya. Hal yang pelik yang telah dijelaskan diatas juga menimpa dirinya dan akhirnya membuat yang bersangkutan terpaksa berhenti kuliah. Laki-laki dengan celana ngatung, kumisan, serta jenggotan itu adalah korban pertama yang menjadi kosma celaka. betapa tidak dialah awal dari balada kosma ini dimulai.

Sepeninggal kosma pertama kepemimpinan jatuh ke tangan laki-laki yang keras, reaktif, dan supel. Kisahnya dimulai saat dia hijrah dari Surabaya menuju cirebon dan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di IAIN SNJ Cirebon. Awal dia menjadi kosma sungguh menggembirakan dan sekaligus membanggakan. Tapi dia belum tahu bahwa itu adalah awal dari petaka yang akan menimpanya. Saat awal kawan saya menjadi kosma keadaan keluarganya baik-baik saja. Tapi beberapa bulan kemudian ayahnya jatuh sakit. Pernah suatu hari dia naik kereta bersama bonek menuju Surabaya dari stasiun kejaksan Cirebon, alasannya tentu bisa menghemat ongkos. Hal itu dilakukan di saat ayahnya masih sakit, maka kawan saya itu harus pulang, setidaknya untuk melihat keadaan ayahnya. Tapi selang beberapa bulan saja terdengar kabar ayahnya pun meninggal, tak pelak lagi hal ini pun berimbas pada perkuliahannya. Dan mudah ditebak endingnya. Maka dengan kejadian tersebut genaplah sudah korban kedua dari kosma pengganti. Akhirnya kawan saya tersebut pulang ke rumahnya di Surabaya.

Pengganti selanjutnya adalah kawan saya yang bergaya santai, menggampangkan sesuatu, selalu terlambat informasi seputar kampus, dan tidak enakan. laki-laki gondrong, sepatu seadanya, dan bulu hidungnya kadang keluar kandang, terkadang disertai butir-butir emas yang melapisinya. dia adalah anak sulung dan memiliki banyak saudara. Dia juga memilliki usaha yaitu berjualan gas tabung tiga kilo, dan juga membuka reparasi barang elektronik rumahan. tapi usahanya itu hanya sedikit membantu masalah ekonominya. Sebuah hal yang paling diingat adalah ketika semua kawan saya pulang kuliah naik motor kadang dia berjalan sendirian hingga jalan raya yang bila diperkirakan jaraknya hampir beberapa ratus meter. Apabila di tempuh dengan jalan kaki lumayan membuat keringetan. Terkadang saat pas bertemu di jalan, saya ajak dia bonceng di motor saya. walaupun hal itu tidak sering tetapi lumayanlah bisa mengingatkan saya akan cerita tentang kawan saya itu.

Dia adalah kosma terakhir yang sekaligus kosma yang kerasan menjadi kosma. Tapi untung tak dapat diraih dan malang malah melintang akhirnya tersandung juga dia. Masalahnya tak jauh berbeda dengan pendahulunya. Kawan saya itu sudah beberapa semester terakhir tak mampu membayar uang semester. Kami mencoba membantu sebisanya dengan mengumpulkan dana tapi apalah arti jumlah uang yang kami kumpulkan belum mampu menutupi jumlah yang sebenarnya dibutuhkan oleh kawan saya itu. Hingga sampai pada akhirnya lalu menuju pula pada ujungnya yang kemudian tertambat dipenghabisan kisah balada kosma. Kawan saya harus merelakan diri untuk mundur dari perkuliahan. Lalu atmospherepun drastis berubah, bayangannya yang kadang menyebalkan bagi beberapa kawan itu kini hilang. Senyum begonya yang terlihat polos dan tak berdosa kini menguap ke hadirat Tuhan.

Alhasil setelah sedih itu lenyap, berhembuslah arti dibalik rentetan kejadian tersebut. ketakutan mulai menyeruak diantara kawan-kawan saya dan begitu juga halnya saya. Saya pun menganggap kejadian ini berarti sesuatu. Lalu melihat kejadian ini banyak kawan saya mengajukan salah seorang perempuan yang dianggap aktif dalam organisasi. Dialah fans berat si botak seorang dosen yang sok cool yang juga pernah memanggang kawan saya hingga melompong bolong atau bolong melompong di saat presentasi di mata kuliah lingusteak. Penunjukannya ada dugaan untuk berharap menghentikan celaka di pucuk pimpinan kelas tapi apabila berlanjut tentunya tidak apa-apa. Maka dari itu dengan tegas kawan saya menolak. dan mengusulkan sistem penanggung jawab tugas. Namun tetap saja terdapat wakil-wakil yang diusulkan sebagai pimpinan kelas. diantara wakil-wakil itu adalah si cerdik item, si handsome yang cool walau kadang sering saya kibulin, selanjutnya si sipit yang pernah ditaksir kawan saya juga sampai pernah bersedia menyetrikakan bajunya, dan pernah diajak pula ke sebuah pasar textile desa terbesar se Asia Tenggara, kemudian yang terakhir adalah salah satu korban pemalakan di Elf. Dia babak belur oleh seorang pemalak yang mana dia memergoki si pemalak itu hendak mencopet. Tapi bukannya kabur si pemalak itu malah menghampiri kawan saya dan memukulinya sampai puas. Mungkin itu salah satu alasan dia bergabung dengan sebuah perguruan silat yaitu Merpati Peace!.

Kita bisa saja menyimpulkan dengan mudah kelanjutan dari kisah ini. Kosma adalah hal yang tabu untuk dilakukan tapi renyah untuk diperbicangkan. Bagaimana tidak, kisah seperti itu sekalipun tidak pernah terjadi sejak mula institute itu berdiri sampai dimasukkan pimpinannya ke hotel dan mungkin ini hanya akan sekali terjadi. Tapi benarkah balada kosma itu terjadi sedemikian, kenyataannya setelah tidak ada lagi kosma yang diangkat sepeninggal kepemimpinan terakhir, ajaibnya kawan-kawan saya tidak ada lagi yang terPHK dari kampus. Tapi beberapa kawan yang terpilih menjadi perwakilan kelas yang artinya sekaligus saya sendiri terserempet dampak penunjukan itu. Pertama, si gadis yang dicalonkan itu ternyata berkenalan dengan aspal di akhir masa perkuliahannya, maksud dari perkataan ini adalah si gadis atau boleh dibilang gadis karena pacaran pun hampir tidak pernah, dan bahkan pernah beredar kabar bahwa dia naksir kawan sekelasnya yang artinya kawan sekelas saya juga, dan sampai-sampai dia diun-friend dari pertemanan facebook dengan kawan saya itu, dan tentu saja pelakunya adalah pacar kawan saya itu pula, dan tidak mungkin juga selingkuhannya karena dia tidak berselingkuh setidaknya hal itu dia buktikan dengan membuat status di akun facebooknya "Loyal Forever". Si gadis ini diakhir masa perkuliahannya harus merasakan nikmatnya patah tulang akibat sebuah kecelakaan parah. Kejadian itu membuat skripsinya tidak bisa cepat terselesaikan. Kemudian kawan saya si item kecil, dia baru beberapa minggu ini melihat megahnya hotel zamrud di tengah kota, anehnya karena kegiatan yang tidak karuan skipsinya belum juga selesai, kawan saya yang handsome and cool begitu juga dengam saya baru saja menyelesaikan sidang skripsinya. Dan si sipit sampai sekarang masih kebingungan dengan angketnya, jelas saja bab 3 nya saja masih berantakan. Kemungkinan jalan menuju sidang masih beberapa bulan lagi. Kemudian korban terakhir adalah si pemuda korban pemukulan yang kisahnya juga tidak jelas, tapi kabarnya sekarang dia menjadi penghuni padepokan. Nasib perkuliahannya entah sampai dimana, tidak ada yang tahu. kami semua terlalu sulit untuk lulus disaat yang lainnya lulus tanpa hambatan yang berarti dan sudah dari dulu-dulu.

Oke di paragraph terakhir dari sub-bab ini saya akan menyatakan bahwa sungguh saya tidak percaya dengan kutukan kosma, meskipun di satu sisi saya tidak mau ditunjuk apalagi mencalonkan diri menjadi kosma, alasan saya simpel saja karena orang tua saya ingin melihat anaknya sarjana. Tapi apakah yang bisa disimpulkan dari hal semacam ini? perjalanan adalah bukan tentang jalannya itu sendiri karena memang jalannya sudah ada. kenapa sudah ada? saat anda berjalan ke pasar ya tentu jalannya sudah ada, tipenya mungkin berbeda, yaitu ada yang aspal, tanah, bebatuan, dan mungkin kayu. Tapi perjalanan adalah keputusan dalam melangkahkan langkah kita, artinya adalah kapan kita akan melangkah dan kapan harus menundanya tapi hal yang perlu diingat adalah bukan dikaitkan dengan tidak apa iya. tapi iya harus melangkah, dan masalahnya adalah kapan. menunda langkah dan menjalankan langkah adalah keputusan kita tapi apa dan bagaimana hasilnya itu bukan menjadi urusan kita lagi. karena perbuatan dan hasil dari perbuatan adalah hal yang berbeda, minimalnya dari segi susunan kosa katanya.

5 comments: