Monday, 26 September 2016

STANDAR GANDA DUNIA



STANDAR GANDA DUNIA
Judul             : Standar ganda dunia
Tebal             : 166 lembar, tidak termasuk darftar isi dan cover
Penerbit         : -
Tahun            : 2016
Pengarang     : Anonymous
Harga            : Rp. 200.000,-

PENGANTAR

Standar ganda dunia adalah sebuah buku yang memberikan gambaran dunia melalui kaca sensitivisme. Buku ini menjadi sebuah pembuka untuk sebuah pemahaman awal dari setiap phenomena yang terjadi di sekitar kehidupan manusia. Buku ini mampu membisiki setiap manusia yang membacanya untuk kembali kepada pemikiran murni manusia yang secara tidak sadar sudah ditutupi oleh berbagai macam ilusi-ilusi kehidupan yang tampak baik di permukaan tapi sangat buruk di dalamnya.

Buku ini berbicara dengan gaya yang berbeda dari buku yang pernah ada di dunia. Buku ini seakan-akan mampu membangunkan seseorang dari mimpi indah yang sebenarnya adalah mimpi buruk, sehingga setiap manusia dapat kembali kepada kesadaran murni. Oleh karena itu pula, buku ini mampu membangunkan pemikiran murni setiap manusia yang membacanya agar mampu memahami setiap hal yang sederhana dan mengambil hikmah dari kejadian tersebut secara cepat dan tajam, sehingga melalui buku ini setiap manusia mampu kembali mengarahkan alam pemikirannya sesuai dengan azas-azas kebenaran universal.

Buku ini menghadirkan phenomena-phenomena sosial dan politik yang awalnya terlihat biasa saja, tapi sebenarnya merupakan sebuah rencana dari beberapa manusia untuk berkuasa dan menguasai semuanya tanpa sisa. Kejadian-kejadian yang disajikan dalam buku ini  mampu memberikan reaksi berantai terhadap pengetahuan setiap manusia untuk memahami sekitarnya. Bahkan dengan hal itu, setiap manusia dapat mengaitkan isi buku ini dengan pengalaman pemikiran radikal mereka, sehingga apa yang tersaji dalam buku ini pada akhirnya menyengat pemikirian setiap manusia lalu mengarahkannya jauh hingga ke akar-akar setiap phenomena yang telah terlanjur dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja atau boleh jadi hal itu sudah dianggap buruk walaupun sebenarnya baik.

Beberapa phenomena yang disajikan buku ini adalah awal dari penjelajahan pemikiran yang akan terjadi sesaat setelah membacanya, atau bahkan saat sedang membacanya. Satu phenomena yang diketengahkan akan membuat manusia yang membacanya mau tidak mau mengaitkan segala pengalaman pribadi atau pemikiran pribadi yang eksklusive dan terbebas dari ilusi-ilusi yang sebelumnya mengikat begitu kuat dalam kepala setiap manusia. Lalu pada ujung kesimpulan dari buku ini adalah munculnya sesuatu yang disebut dengan membangunkan pemikiran yang tersadarkan.

Dalam pembukaan buku ini diawali dengan diangkatnya isu-isu demokrasi yang berpatokan pada persaingan gila demi memperebutkan sesuatu yang disebut dengan kekuasaan. Dengan pembawaan yang begitu sentimentil, buku ini mampu membuat manusia yang membacanya tak mampu lagi berpikir untuk menegasikan premis-premis negatif terhadap demokrasi, sehingga siapapun pada akhirnya akan diikat dengan sangat kuat untuk meyakini dan membenarkannya. Lalu dari pembenaran itu, maka dengan sendirinya akan timbul pemikiran yang lebih mendalam, serta menjadikan premis-premis negatif terhadap demokrasi menjadi sebuah prinsip dasar pemikirannya.

Lebih jauh setelah itu, setiap manusia akan dibawa menuju isu-isu sosial yang ramai diperbincangkan di tengah masyarakat. Di dalam isu-isu sosial itu terdapat berbagai ide-ide yang saling berlawanan satu sama lain sebagai dampak berantai yang disebabkan munculnya isu tersebut. Dan buku ini mampu menyajikan secara penuh gambaran isu sosial tersebut dengan mengetengahkan phenomena kekerasan seksual terhadap anak, dan pembela HAM, serta pendukungnya yang sebenarnya antara korban, pelaku, dan pakar HAM saling menikam satu sama lain. Bagaimanapun korban yang menuntut keadilan hukuman bagi pelaku dengan kebiri tidak bisa serta merta meloloskan rancangan undang-undang itu dikarenakan adanya tekanan dari kalangan pembela HAM, sehingga korban yang sesungguhnya menjadi pihak teraniaya menjadi terabaikan dan konyolnya justru para pakar mengalihkan perhatian mereka kepada polemik tentang rancangan undang-undangnya yang kemudian bisa diduga bahwa hal itu hanya akan menjadi diskusi tanpa ujung. Padahal di sisi lain, korban justru tidak dapat memperoleh haknya akan keadilan, karena mereka justru terseret untuk menjadi objek dari polemik itu, dan bukan penegakan hukumnya. Hal itu diperparah dengan gamangnya pemerintah untuk mengambil sikap terkait phenomena itu, sehingga pada akhirnya semua itu hanya menjadi rhetorika belaka, dan korban pun benar-benar hanya bisa gigit jari, karena tidak adanya penegakan hukum yang kuat, apalagi merencanakan tindakan pencegahannya, karena masing-masing pihak justru sibuk untuk berpolemik.

Dari pemahaman itu, maka isu-isu sosial yang diketengahkan dapat dipastikan mampu merangsang pemikiran murni seseorang untuk menyadari bahwa sebuah phenomena hanyalah sekedar tontonan yang sangat jauh dari essensi yang sebenarnya. Ide itulah yang kemudian digunakan dalam phenomena selanjutnya sebagai arah pemikiran manusia yang membacanya agar mampu membedakan manakah yang disebut kebohongan dan manakah yang disebut pengkhianatan. Isu yang diketengahkan tersebut adalah phenomena mencuatnya kembali keinginan pengungkapan kekerasan tahun 1965. Dalam isu itu, manusia yang telah memiliki ide yang dihasilkan dari isu sebelumnya akan dengan mudah memahami situasi pembiasan kebenaran atau BIAS OF TRUTH yang dilakukan oleh pihak tertentu dengan melakukan pergeseran istilah dengan begitu sistematis, sehingga pada gilirannya nanti akan diketahui jika mereka sebenarnya sedang membalikan kebenaran dan menggantinya dengan kebenaran versi mereka. Mungkin sangat sedikit manusia yang menyadari bahwa pergeseran istilah yang telah dilakukan oleh kelompok itu sudah sedemikian jauh menyasar generasi-genarasi muda dengan mencekokki generasi tersebut dengan kebenaran yang mereka ciptakan, hal itu telah nyata-nyata terjadi dengan bergesernya istilah-istilah kejahatan dalam buku-buku pelajaran mulai dari yang paling dasar yang mana istilah itu mereka ubah menjadi lebih humanis. Dan itulah apa yang kemudian disebut dengan penciptaan kembali kebenaran oleh mereka.

Setelah pemikiran murni untuk pertama kalinya dibuka oleh isu itu, maka selanjutnya pemikiran manusia akan mudah mengetahui bagaimana sebuah kelompok jahat bertindak atas nama rakyat tapi justru dikemudian hari rakyatlah yang ditumpas oleh mereka. Tapi siapapun yang telah memahami tahapan ini, maka dengan mudah mereka akan merasa heran dan tercengang tak percaya ketika rakyat yang dianiaya itu justru berterima-kasih kepada pihak yang menganiayanya. Hal itu dapat dilakukan oleh mereka dengan membentuk sebuah standar ganda terhadap dua hal yang sama tetapi terlihat begitu jauh berbeda. Ketika sebuah isu yang sama dilakukan oleh golongan di luar mereka, maka hal itu kemudian divonis sebagai sebuah kekejaman dan tirani, sehingga kelompok mereka pun akan mengadakan perlawanan-perlawanan atas nama rakyat dengan mengerahkan budak-budak mereka untuk bertempur di medan laga peperangan. Padahal hal yang sama pula kemudian mereka lakukan setelah bergantinya kekuasan yang kini mereka pegang dan kendalikan. Tetapi hal yang sungguh aneh terjadi yaitu sesuatu yang dulu mereka anggap kekejaman dan tirani dapat dengan mudah berubah menjadi sebuah kebaikan. Isu ini tersaji dengan baik dengan mengetengahkan phenomena kenaikan harga minyak dalam negeri di dua rezim yang berbeda.

Bagaimanapun pembentukan pola-pikir murni akan dengan sendirinya dapat melepaskan ikatan-ikatan ilusi itu satu-persatu, kemudian pada tahap selanjutnya pemikiran itu berubah menjadi independen, dan mampu untuk secara lebih tepat dan tajam menganalisa segala sesuatu dengan begitu objektif dan radikal. Untuk itu buku ini kemudian menyajikan sebuah gambaran yang lebih serius dari sekedar phenomena umum yang sebenarnya memiliki rahasia yang lebih gelap di dalamnya. Isu yang menjadi penggambaran ide itu mewujud pada tiga aspek pembentuk kekuatan dari beberapa manusia yang berniat menguasai semuanya tanpa sisa. Melalui tiga aspek dasar itu, mereka bergerak dengan sangat cepat dan effesien untuk menciptakan apa yang mereka sebut dengan kekuasaan tanpa batas dan penguasaan tanpa menyisakan. Perlu diketahui bahwasannya seluruh rencana mereka adalah rencana manusia yang memiliki lebih dari sekedar sebuah kejeniusan, dan semuanya itu bersumber dari pemikiran cemerlang tanpa cela yang mereka jalankan dengan begitu effective. Buku ini memberikan phenomena-phenomena ekstreem sebagai hasil dari kecermelangan pemikiraan mereka, seperti berputarnya haluan pers dari perjuangan kiri menjadi perjuangan melawan haluan tersebut, pemakaman media-media yang melakukan perlawanan, pemberangusan kader-kader DEMOKRAT, penghancuran KMP sampai hancur lebur, penciptaan mega pemerintahan politik satu komando, dan penciptaan stabilitas pers yang mengerikan, dan sekali lagi itu semua merupakan hasil dari kerja brilliant manusia yang memiliki lebih dari sekedar apa yang disebut kejeniusan.

Kemudian buku ini menyempurnakan penciptaan pola-pikir murni itu dengan membuka rahasia yang begitu mengerikan tentang sebuah GRAND-DESIGN yang bertujuan untuk menterjemahkan apa yang disebut oleh buku ini sebagai kekuasaan tanpa batas dan penguasaan tanpa menyisakan. Di tahap inilah manusia dinilai mampu untuk memahami ujung dari buku ini yaitu membangunkan pemikiran yang tersadarkan, dan ini merupakan penjelajahan awal manusia yang sepenuhnya akan berlepas dari buku ini untuk kemudian memahami setiap gerak dunia. Melalui buku ini manusia diperlihatkan bagaimana awal mula kekuasaan tanpa batas dan penguasaan tanpa menyisakan itu terbentuk. Lalu manusia diperlihatkan pula kepada sesuatu yang disebut dengan KEKUASAAN dan hakikatnya. Kemudian buku ini juga mengungkapkan arti kekuasaan menurut versi mereka, karena bagi mereka arti kekuasaan tidak hanya sekedar memiliki semua yang diperebutkan tapi juga memiliki apa yang menjadi milik lawan, mereka berpendapat bahwa BERKUASA adalah penguasaan tanpa menyisakan. Demi mengarahkan ke tujuan akhir itu, selanjutnya buku ini menyajikan phenomena-phenomena yang telah terjadi jauh sebelumnya, seperti naiknya AHok sebagai gubernur, PUBLIKASI RAYA kesuksesan kepemimpinan JOKOwi di solo, dipersiapkannya JOKOwi sebagai presiden, perjanjian pembagian kekuasaan, penikaman PRABOWO, perampasan AHOK dari GERINDRA, dan penghakiman masyarakat terhadap PRABOWO.

Informasi

Buku ini hanya bisa dibeli melalui pemesanan lewat email dengan alamat motolenin@gmail.com Proses pembayaran dilakukan melalui transfer bank, dan begitu juga dengan pengiriman buku hanya dilakukan jika pembayaran sudah diselesaikan dengan mengirimkan bukti struk pentransferan atau printscreen HP lewat email.

Kalimat yang digunakan untuk pemesanan adalah [PESAN SGD] [JUMLAH] [NAMA] [ALAMAT LENGKAP]. Selanjutnya pemesan akan menerima balasan berupa no.rek tujuan pembayaran. Bila pemesan tidak melakukan pemesanan lewat email tapi kemudian mentransferkan uang ke no.rek tersebut maka tidak akan dianggap sebagai pembayaran pemesanan buku dan uang pun tidak bisa dikembalikan.

No comments:

Post a Comment